Kritik Matan Hadis Usia Nikah ‘Āisyah

Share on :


Menurut bahasa Matan Hadis berasal dari bahasa Arab yang artinya panggung jalan (muka jalan), tanah yang tinggi dan keras.[1]
Matan dalam istilah Hadis berarti pengunjung sanad, yakni sabda Nabi Muhammad saw, yang disebut sesudah habis disebutkan sanad.[2]
Matan hadits ialah pembicaraan (kalām) atau materi berita yang di-over oleh beberapa sanad, baik pembicaraan itu berasal dari sabda Rasulullah saw., Sahabat, ataupun Tabiin; baik isi pembicaraan itu tentang perbuatan Nabi maupun perbuatan Sahabat yang tidak disanggah oleh Nabi.
Kritik matan Hadis (Naqd al-Matn) dalam konteks ini berarti usaha untuk menyeleksi matan-matan Hadis sehingga dapat ditentukan antara matan-matan Hadis yang sahih atau yang lebih kuat dan yang tidak. Apakah matan tersebut mengandung cacat atau terdengar janggal.
Unsur-unsur yang harus dipenuhi oleh suatu matan yang berkualitas sahih ada dua macam, yakni terhindar dari syudzūd (kejanggalan) dan terhindar dari illah (cacat). Itu berarti bahwa untuk meneliti matan maka kedua unsur tersebut harus menjadi acuan utama.
Dalam perkembangannya, syudzūd dan ‘illah dijabarkan secara berbeda-beda oleh para Ulama ahli Hadis menjadi butir-butir yang dijadikan sebagai tolak ukur.
Menurut al-Khātib al-Baghdādī (wafat 463 H/1072 M), suatu matan Hadis barulah dinyatakan sebagai maqbul apabila :

  • Tidak bertentangan dengan akal yang sehat
  • Tidak bertentangan dengan hukum al-quran yang telah muhkam
  • Tidak bertentangan dengan Hadis mutawatir
  • Tidak bertentangan dengan amalan yang menjadi kesepakatan Ulama masa lalu (Ulama salaf)
  • Tidak bertentangan dengan dalil yang telah pasti
  • Tidak bertentangan dengan Hadis ahad yang kualitas kesahihannya lebih kuat.[3]
Ibn Al-Jauzi (wafat 597 H/1210 M), dalam hubungannya dengan tolak ukur untuk meneliti Hadis beliau mengemukakan dengan pernyataan yang cukup singkat. Kata beliau, “setiap Hadis yang bertentangan dengan akal ataupun berlawanan dengan ketentuan pokok agama, maka ketahuilah bahwa Hadis tersebut adalah Hadis palsu.”[4]
Sedangkan menurut Jumhur Ulama Hadis, tanda-tanda matan Hadis yang palsu itu ialah:

  • Susunan bahasanya rancu. Karena Rasulullah saw yang sangat fasih dalam berbahasa Arab dan memiliki gaya bahasa yang khas mustahil menyabdakan pernyataan yang rancu tersebut.
  • Kandungan pernyataannya bertentangan dengan akal yang sehat dan sangat sulit diinterpretasikan secara rasional.
  • Kandungan pernyataannya bertentangan dengan tujuan pokok ajaran Islam ; misalnya berisi ajakan untuk berbuat maksiat.
  • Kandungan pernyataannya bertentangan dengan sunnatullah (hukum alam).
  • Kandungan pernyataannya bertentangan dengan fakta sejarah.
  • Kandungan pernyataannya bertentangan dengan petunjuk al-Quran atau Hadis mutawatir yang telah mengandung petunjuk secara pasti.
  • Kandungan pernyataannya berada di luar kewajaran diukur dari petunjuk umum ajaran Islam ; misalnya saja, amalan tertentu yang menurut petunjuk umum ajaran Islam dinyatakan sebagai amalan yang “tidak seberapa”, tetapi diiming-imingi dengan balasan pahala yang sangat luar biasa.[5]
Ulama Hadis memang tidak menjelaskan urutan penggunaan butir-butir tolak ukur tersebut. Hal itu dapat dimengerti karena persoalan yang perlu diteliti pada berbagai matan memang tidak selalu sama. Sehingga penggunaan butir-butir tolak ukur sebagai pendekatan penelitian matan disesuaikan dengan masalah yang terdapat pada matan yang bersangkutan. Dalam hal ini penulis lebih cenderung kepada kesimpulan al-Adabī bahwa tolak ukur untuk penelitian matan ada empat macam yang mencakup keseluruhan butir-butir di atas :

  • Tidak bertentangan dengan petunjuk al-quran
  • Tidak bertentangan dengan Hadis yang lebih kuat
  • Tidak bertentangan dengan akal yang sehat, indera, dan sejarah
  • Susunan pernyataannya menunjukkan cirri-ciri sabda kenabian.[6]
Dalam uji materi (kritik internal) ini, penulis melihat melalui 2 aspek ; 1) beberapa aspek yang memberatkan tentang usia pernikahan ‘Āisyah dalam hadis; 2) beberapa aspek yang tidak mempersoalkan  usia pernikahan ‘Āisyah dalam hadis.
1. Aspek-Aspek Yang Memberatkan
Aspek-aspek yang memberatkan tersebut adalah ; Sikap para Ahli Hadis, Penelusuran kesejarahan, serta segi kebahasaan redaksi Hadis.
Secara kronologis, penulis perlu mencatat beberapa tanggal penting dalam sejarah Islam yang dimulai sejak masa Jahiliyah (pra Islamic era), yaitu sebelum wahyu turun sekitar Pra-610 M. Selanjutnya pada 610 M, turun wahyu pertama dan Abū Bakr menerima Islam. Selang tiga tahun kemudian, pada 613 M, Nabi Muhammad mulai mengajarkan Islam ke Masyarakat di Makkah dan pada 615 M, Nabi Muhammad Hijrah ke Abyssinia dan satu tahun kemudian yaitu pada 616 M, ‘Umar bin al Khaththāb baru masuk Islam. Pada 620 M, dikatakan Nabi meminang ‘Āisyah , dan dua tahun kemudian yaitu pada 622 M, Nabi Muhammad Hijrah ke Yatsrib, yang kemudian dinamai Madinah. Dan pada 623/624 M, dikatakan Nabi saw baru berumah tangga dengan ‘Āisyah .
Tanggal-tanggal penting di atas selanjutnya akan dijadikan pijakan untuk penelitian matan Hadis tentang usia pernikahan ‘Āisyah dengan Rasulullah saw. Karena dengan mengetahui latar kronologis di atas, setidaknya akan membantu melihat peristiwa demi peristiwa secara akurat dan tepat. Bagi penulis, ini menjadi hal yang urgen. Karena sebuah peristiwa pasti terkait dengan peristiwa lainnya/berikutnya. Selain itu, kesimpangsiuran informasi atau sumber yang ada terkadang bisa menyebabkan kerancauan atau bahkan hasil yang diskriminatif.
A.    Sikap para ahli Hadis

  •          Ibn Hajar Al-Asqalani
Dalam kitabnya Tahdzib Al-Tahdzib yang terdiri dari 12 jilid, membahas kehidupan dan kredibilitas perawi riwayat dan Hadis-Hadis Nabi saw.
Al-hafidz mengatakan, “penduduk Madinah menolak riwayat Hisyām bin ’Urwah yang diceritakan orang-orang Irak.”
Ketika ibn Hajar mewawancarai Ya’qūb ibn Syaibah, ia berkata,
“dan berkatalah Ya’qūb ibn Syaibah, (Hisyām adalah) orang yang terpercaya, kuat riwayatnya, tidak ada yang menolaknya, kecuali setelah ia tinggal di Irak. Di Irak, ia menyebarkan riwayat yang mengatasnamakan Ayahnya, tapi ditolak oleh orang Madinah. Di Madinah, ia hanya meriwayatkan Hadis yang benar-benar ia dengar dari ayahnya. Tapi di Irak, ia mengatakan mendengar dari ayahnya, padahal ia tidak mendengar dari Ayahnya, tapi dari orang lain.”[7]
Jika demikian, Hisyām diduga sebagai mudallas. Ia mendengar dari orang lain, malah ia mungkin mengarangnya sendiri dan mengatakan bahwa ia mendengar dari ayahnya.

  • Syamsuddin Al-Dzahabī
Dalam kitabnya Mizan Al-I’tidal yang terdiri dari 4 jilid, ia mengatakan tatkala menulis tentang Hisyām ibn’Urwah,
“(Hisyām ibn’Urwah) adalah seorang di antara orang-orang alim, hujjah, imam, tapi sayang di hari tuanya ingatannya menurun.”[8]
B.     Fakta-Fakta Sejarah

  •          Pinangan Nabi
Menurut Thabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), ‘Āisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun.
Tetapi, di bagian lain, Al-Thabari mengatakan: "Semua anak Abu Bakr (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyahh dari 2 isterinya."[9]
Jika ‘Āisyah dipinang 620M (‘Āisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga tahun 623/624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa ‘Āisyah dilahirkan pada 613 M. Sehingga berdasarkan tulisan Al- Thabari, ‘Āisyah seharusnya dilahirkan pada 613M, Yaitu 3 tahun sesudah masa Jahiliyahh usai (610 M).
Thabari juga menyatakan bahwa ‘Āisyah dilahirkan pada saat Jahiliyah. Jika ‘Āisyah dilahirkan pada era Jahiliyah, seharusnya minimal ‘Āisyah berumur 14 tahun ketika dinikah. Tetapi intinya Thabari mengalami kontradiksi dalam periwayatannya.

  • ‘Āisyah adalah penganut Islam yang ke-18
Ibn Hisyām (w. 218 H) menulis dalam kitabnya yang berjudul Sirah Al-Nabawiyah  mengenai urutan orang-orang pertama yang masuk Islam, laki-laki dan perempuan. Dalam urutan tersebut, ‘Āisyah menempati urutan nomor 18. Di sana disebutkan bahwa ‘Āisyah masuk Islam tatkala masih kecil. 18 orang tersebut secara berurutan mereka adalah ;
1.      Ali ibn Abī thalib, lelaki pertama yang masuk Islam
2.      Abū Bakr
3.      Zaid ibn Hāritsah
4.      Utsmān ibn Affan
5.      Zubair ibn ‘Awwām
6.      ‘Abd al-Rahmān ibn Auf
7.      Sa’d ibn Abī Waqqāsh
8.      Thalhah ibn ‘Ubaidillāh
9.      Abū Ubaidah Al-Jarrāh
10.  Arqām ibn Abī Arqām
11.  Utsmān ibn Mazh’un
12.  Quddāmah ibn Mazh’un
13.  ‘Abdullāh ibn Mazh’un
14.  Ubaidah ibn Hārits ibn Muthālib
15.  Sa’īd ibn Zaid
16.  Fātimah binti ‘Umar ibn Khaththab
17.  Asmā binti Abī Bakr
18.  ‘Āisyah binti Abī Bakr[10]
Kita perkirakan tatkala ‘Āisyah sudah bisa memilih agama apa yang dia anggap benar saat itu usianya sekitar 7 tahun. Dengan demikian, ‘Āisyah telah masuk Islam pada tahun pertama keNabian, yaitu ketika Nabi berusia 40 tahun. Sedangkan Nabi menikah dengan ‘Āisyah ketika berumur 51 tahun, sehingga umur ‘Āisyah pada saat menikah bisa kita hitung sekitar 7+(51-40)=18 tahun. Kemudian kumpul serumah dengan Nabi pada usia 21 tahun di Madinah, yaitu tatkala Nabi berusia 54 tahun.

  • ‘Āisyah menjadi saksi mata tatakala Nabi berusia 40 tahun
Al-Bukhārī meriwayatkan Hadis yang langsung bersumber dari ’Urwah dari ‘Āisyah ,
“Diriwayatkan oleh Yahyā ibn Bakīr, dari al-Laits, dari Aqīl yang berkata, ‘ibn Syihāb memberitahukan kepadaku dari ’Urwah ibn Zubair bahwa ‘Āisyah telah berkata, ‘Sejak bisa mengingat saya menyaksikan kedua orangtua saya beribadah menurut agama islam.
Dan Abū Shāleh berkata, ‘disampaikan kepada saya oleh ‘Abdullāh, dari Yūnus dari al-Zuhrī yang berkata, ‘Disampaikan kepada saya oleh ’Urwah ibn Zubair bahwa ‘Āisyah telah berkata, “Sejak saya bisa mengingat, saya menyaksikan kedua orangtua saya beribadah menurut agama islam. Dan tidak ada sehari pun yang lewat kecuali Rasulullah saw mengunjungi kami pagi dan sore.”[11]
Kisah Nabi pada riwayat tersebut yang mengunjungi rumah Abū Bakr pada pagi dan sore adalah kisah hari-hari pertama kenabian, yaitu tatkala Nabi berusia 40 tahun.
Kalau kita berpijak pada riwayat sebelumnya yang mengatakan bahwa ‘Āisyah menikah umur 6 tahun dengan Nabi yang berumur 51 tahun, maka jika dikaitkan dengan riwayat ini, bisa diperhitungkan seperti ini ;
Katakanlah usia ‘Āisyah pada hari-hari Rasulullah berkunjung adalah 6 tahun, maka 11 tahun kemudian, yaitu tatkala Nabi berusia 51 tahun, yaitu tatkala ‘Āisyah menikah dengan Nabi, ‘Āisyah mestinya berumur 17 tahun dan kumpul serumah dengan Nabi tatkala Nabi berusia 54 tahun dan umur ‘Āisyah 20 tahun.

  • ‘Āisyah ikut perang Badar
Setelah meninggalkan Madinah menuju Badar, pasukan Muslim tiba di lembah Aqiq, sekitar 1,6 km dari Madinah. Di sini Nabi mengembalikan para remaja yang masih berumur 15 atau 16 tahun ke Madinah. Di antaranya mereka adalah ; ‘Abdullāh ibn Umar, Usāmah Ibn Zaid, Rafi’ Ibn Khādij, Barrā’ Ibn Azib, Usaid Ibn Zhuhair, Zaid Iibn Arqām, Zaid Ibn Tsābīt, Umair Ibn Abī Waqqāsh. Yang terakhir, Umair yang adalah adik Sa’ad ibn Abī Waqqāsh terus menangis sehingga Nabi mengizinkannya ikut serta.
Sebuah riwayat mengenai ikut sertanya ‘Āisyah dalam perang Badar dijabarkan dalam Hadis Muslim berikut ;[12]
Diriwayatkan oleh ‘Āisyah , istri Rasulullah saw, yang berkata, “Rasulullah saw berangkat ke Badar. Tatkala ia mencapai harrat al-wabarah (sekitar 6,4 km dari Madinah), seorang lelaki yang sudah terkenal keberaniannya menemuinya. Sahabat-sahabat Rasulullah saw senang melihatnya. Orang itu berkata kepada Rasulullah saw, ‘saya datang agar saya bisa mengikutimu untuk mendapatkan bagian rampasan perang.’, Rasulullah saw juga senang melihatnya. Ia bersabda kepadanya, ‘apakah kau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?’, lelaki itu menjawab, ‘tidak!’, Rasulullah saw bersabda, ‘kembalilah, saya tidak mencari pertolongan dari orang musyrik.’, ia kembali sampai di syajarah (sebelah selatan Madinah, tempat memulai haji), tapi ia kembali lagi menemui Nabi. Rasulullah saw bertanya dengan pertanyaan serupa dan lelaki itu member jawaban yang sama. Rasulullah saw bersabda, ‘kembalilah, saya tidak mencari pertolongan dari orang musyrik.’, lelaki itu kembali lagi menyusul Nabi di baida’. Beliau bertanya dengan pertanyaan serupa, ‘apakah kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?’, lelaki itu menjawab, ‘ya!’, Rasulullah saw bersabda kepadanya, ‘kalau demikian, ikutlah dengan kami.”
Demikian riwayat Muslim. Kesaksian ‘Āisyah dalam Hadis ini menunjukkan bahwa ia ikut perang Badar.
Perang Badar terjadi pada 17 ramadhan 2 H/13 maret 624 M. Menurut riwayat Hisyām, tatkala kumpul serumah dengan Nabi pada 1 H, umur ‘Āisyah ketika itu 9 tahun. Dengan demikian, pada perang Badar ini umur ‘Āisyah 10 tahun.
Kalau para remaja yang berumur 14 tahun tidak dibolehkan ikut perang, ‘Āisyah ra mestinya adalah gadis yang berumur lebih dari 14 tahun dan bukan 10 tahun seperti diriwayatkan Hisyām.
Sedangkan dalam sahih Bukhārī, diriwayatkan dari ibn ‘Umar :
Nabi melihatnya tatkala perang Uhud dan ia berumur 14 tahun. Dan Nabi tidak membolehkannya ikut berperang. Nabi melihatnya pada perang khandaq dan ia telah berumur 15 tahun. Dan Nabi membolehkannya ikut ambil bagian dalam peperangan itu.”[13]
Perang Uhud berlangsung pada 3 H. ibn ‘Umar mengatakan ia tidak boleh ikut dalam perang ini karena umurnya belum 15 tahun.
Menurut perawi Hisyām, ‘Āisyah berumur 11 tahun tatkala perang Uhud ini berlangsung.
Al-Bukhārī meriwayatkan atas kesaksian anas ibn Mālik :
Saya melihat ‘Āisyah dan Ummu Sulaim menyingsingkan (sedikit) pakaiannya sehingga saya melihat gelang-gelang di kaki mereka tatkala mereka membawa kantong-kantong air dari kulit di atas punggung mereka dan mengakhirinya ke dalam mulut orang-orang (yang luka).”[14]
Jadi, ‘Āisyah ikut perang Badar (umur 10 tahun, menurut Hisyām) dan perang Uhud (umur 11 tahun, menurut Hisyām).
Mengangkut kantong air di punggung dan bolak-balik ke sumur yang begitu jauh, yang mungkin sampai ke wilayah Jurf. yang memiliki 8 mata air, melalui jalan berbatu-batu kerikil yang tajam bekas lahar gunung berapi seperti di Madinah ini, tidaklah mungkin dilakukan oleh anak perempuan berumur 11 tahun. Berbeda dengan Ummu Sulaim, Ibu Anas Ibn Mālik, yang sudah berpengalaman.

  • Cerita tentang Usāmah yang mimisan
Al-allamah habīb al-Rahmān Siddīqui kandhalvi [15] mengutip Tirmīdzī tatkala ‘Āisyah ra berkata :
Usāmah tergelincir di depan pintu, wajahnya terluka, dan Rasulullah saw bersabda kepadaku, ‘bersihkan kotoran itu dari Usāmah’. Saya merasa jijik tatkala melihat Usāmah mulai menjilati darahnya. Ia mulai membersihkan darah itu dari wajahnya.”
Riwayat lain dari ibn Mājah dengan redaksi sebagai berikut :
Usāmah mimisan. Rasulullah saw memerintahkan kepadaku agar bangkit dan menolong membersihkan hidung Usāmah. Saya merasa mual dan Rasulullah saw sendiri yang bangkit dan membersihkan hidungnya.”
Tertulis dalam riwayat al-Tirmīdzī bahwa Rasulullah saw bermaksud membersihkan hidung Usāmah. Ummul Mu’minin ‘Āisyah memohon agar Nabi mengizinkannya membersihkan hidung Usāmah. Nabi bersabda, “wahai ‘Āisyah , engkau mencintai Usāmah, karena saya juga mencintainya.”[16]
Al-Baihaqī menyalin dari Sya’bī dari Ummul Mu’minin ‘Āisyah yang berkata :
Rasulullah saw menyuruh saya agar bangkit dan mencuci wajah Usāmah. Saya menjawab bahwa saya tidak memiliki anak sehingga saya tidak tahu bagaimana mencuci wajah anak-anak. Engkau saja yang mengangkat dan mencuci wajahnya. Nabi mencuci wajahnya sambil berkata kepada Usāmah, ‘engkau telah memberi kesempatan ini untuk kami dan engkau bukanlah seorang perempuan. Bila engkau seorang perempuan, aku akan menghiasimu dengan perhiasan-perhiasan dan akan mengeluarkan uang untukmu.”
Melalui al-Baihaqī, Imam Ahmad mengutip kata-kata ‘Āisyah ra bahwa Usāmah jatuh di depan pintu. Wajahnya terluka. Kemudian Rasulullah saw membersihkan lukanya dan bersabda, “Usāmah, bila engkau seorang perempuan, aku akan memakaikanmu pakaian dan perhiasan-perhiasan. Saya akan mengeluarkan banyak uang untukmu.”
Dari riwayat-riwayat ini jelaslah bagi kita bahwa Usāmah ibn Zaid adalah seorang anak di mata ‘Āisyah yang sering jatuh dan sering mimisan. Terkadang ‘Āisyah membersihkannya dan seringkali Nabi yang melakukannya. Kadang-kadang ‘Āisyah merasa mual dan memohon maaf dengan mengatakan, “saya tidak memiliki anak,  sehingga saya tidak berpengalaman mencuci wajah anak-anak.”
Jika diperhatikan, kata-kata ‘saya tidak memiliki anak’ tidak akan diucapkan oleh anak berumur 9 atau 10 tahun. Ka-kata seperti ini hanya akan dikeluarkan oleh wanita-wanita dewasa yang merindukan seorang anak.
Dari sini jelaslah bahwa Usāmah jauh lebih muda dibanding dengan ‘Āisyah Bila ‘Āisyah seumur atau lebih muda dari Usāmah, Nabi tidak akan menyuruhnya untuk membersihkan wajah dan hidung Usāmah. Sebab perintah semacam itu hanya diberikan kepada seseorang yang lebih tua daripada si anak.
Jika demikian, kalau menurut Hisyām, tatkala Nabi wafat, umur ‘Āisyah 18 tahun. Al-Dzahabī meriwayatkan dalam kitab Siyar A’lam Al-Nubala bahwa Usāmah sudah berumur 18 tahun tatkala Nabi wafat. Ibn Katsīr mengatakan tentang umur Usāmah tatkala rasul wafat,
Rasulullah saw wafat dan umurnya 19 tahun.”[17]
Sebelum Rasul wafat, beliau menunjuk Usāmah sebagai panglima pemimpin pasukan kaum Muslim ke Muth’ah, di Yordania sekarang.
Dengan demikian, karena Rasul wafat pada usia 63 tahun, Usāmah lahir tatkala Rasul berumur 44 tahun (menurut ibn Katsīr), atau 45 tahun (menurut al-Dzahabī), seumur atau lebih tua 1 tahun daripada ‘Āisyah . Kalau demikian, riwayat di atas menjadi tidak masuk akal.
Bila Usāmah sering mengalami mimisan pada umur 2 tahun maka ‘Āisyah yang membersihkan wajah bukanlah berumur 1 atau 2 tahun.
Dengan demikian, ‘Āisyah mestinya berumur paling tidak sekitar 10 tahun lebih tua daripada Usāmah.

  • Selisih Umur ‘Āisyah dengan Asmā
Menurut sebagian besar Ahli sejarah, termasuk Ibnu Hajar Al-Asqalani,[18] ‘Abd al-Rahmān bin Abī Zannad,[19] dan Ibnu Katsīr,[20] selisih umur Asmā -anak perempuan tertua Abū Bakr- dengan ‘Āisyah adalah 10 tahun. Menurut Ibnu Katsīr dalam kitabnya Al-Bidayah Wa Al-Nihayah, Asmā meninggal dunia pada 73 H dalam usia 100 tahun.[21] Dengan demikian pada awal Hijrah Nabi ke Madinah usia Asmā sekitar 27 atau 28 tahun ketika hijrah (622 M). Jika Asmā berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika ‘Āisyah berumah tangga), ‘Āisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, ‘Āisyah , berusia 17 atau 18 tahun ketika hijrah pada tahun dimana ‘Āisyah berumah tangga.

  • Selisih Umur ‘Āisyah dengan Fathimah
Menurut riwayat Ibnu Hajar, jika dihubungkan dengan umur Fathimah, “Fathimah dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, tepatnya, ketika Nabi saw berusia 35 tahun, padahal Fathimah 5 tahun lebih tua dari ‘Āisyah ”. Fathimah lahir ketika Nabi berumur 30 tahun. Jika Nabi menikahi ‘Āisyah setahun setelah hijrah (atau ketika Nabi berumur 53 tahun). Ini mengindikasikan ‘Āisyah berumur 17-18 tahun ketika menikah dengan beliau.[22]

  • ‘Āisyah dan Turunnya Surat al-Qamar
Menurut beberapa riwayat, ‘Āisyah dilahirkan pada tahun ke- 8 sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhārī, ‘Āisyah tercatat mengatakan hal ini: “Saya seorang gadis muda (jariyah)” ketika surah al-Qamar diturunkan.[23]
Surat 54 dari al-Qur’an tersebut diturunkan pada tahun ke- 8 sebelum Hijriyah, artinya surat tersebut diturunkan pada tahun 614 M. jika ‘Āisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah saw pada usia 9 di tahun 623 M atau 624 M, berarti ‘Āisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah) pada saat surah al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat di atas, secara aktual tampak bahwa ‘Āisyah adalah sudah menjadi gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika pewahyuan al-Qamar.
Jadi, ‘Āisyah , telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), atau telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah al-Qamar, dan oleh karena itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketika dinikahi oleh Nabi saw.
C.    Aspek kebahasaan
Imam Ahmad, Al-Baihaqi, Al-Hakim Al-Naisabūri, meriwayatkan bahwa Khaulah meminang untuk Rasulullah seorang gadis bernama ‘Āisyah dan bukan anak-anak.
 “dari ‘Āisyah ra yang berkata, ‘setelah Khadījah ra meninggal dunia, Khaulah Ibn Hakim Ibn Umayyah, Istri Utsmān Ibn Mazh’un, tatkala itu di makkah, bertanya, ‘wahai Rasulullah, tidakkah engkau mau menikah?’ Nabi bertanya, ‘dengan siapa?’ Khaulah menjawab, ‘bila kau mau, ada perawan (بكر), ada janda.’
Nabi bertanya, ‘siapa yang perawan?’ khaulah menjawab, ‘ia putri dari orang yang paling dekat denganmu dari semua ciptaan Allah, yaitu ‘Āisyah binti Abū Bakr.’
Nabi bertanya lagi, ‘dan siapa yang janda?’ khaulah menjawab, ‘ia Saudah Binti Zamh’ah Ibn Qays. Ia beriman kepadamu dan selalu mengikutimu.’ Nabi menjawab, ‘pergilah kau bicara tentang diriku di kedua tempat itu dan tunggu.”[24]
Kata bikr (بكر) yang digunakan oleh khaulah dan Nabi di atas berarti gadis atau perawan. Sedangkan untuk anak perempuan kecil disebut jariyah (جارية). Hadis di atas jelas menolak pernikahan dini ‘Āisyah dengan Rasulullah saw.
2. Aspek-Aspek Yang Tidak Mempersoalkan
Adapun dalil-dalil yang tidak mempersoalkan tentang usia pernikahan ‘Āisyah adalah dengan melihat aspek-aspek berikut :

  • Iklim ketika itu
Cuaca panas yang biasa dialami bangsa Arab di negerinya menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan fisik anak perempuan menjadi pesat di satu sisi. Di sisi lain, pada sosok pribadi yang menonjol, berbakat khusus, dan berpotensi luar biasa dalam mengembangkan kemampuan otak dan pikiran, pada tubuh mereka terdapat persiapan sempurna untuk tumbuh dan berkembang secara dini. Dalam bahasa Inggris, keadaan seperti ini di istilahkan dengan precocious (pertumbuhan dini atau kematangan dini).[25]

  • Usia dan para istri Nabi
Perempuan yang nabi nikahi sepeninggal khadijah semuanya janda. Hanya ‘Āisyah seorang yang perawan, lainnya sudah pernah bersuamikan lelaki lain. Di samping itu, nabi menikahi mereka saat beliau berusia di atas lima puluh. Suatu jenjang usia yang secara seksual sudah kurang bergairah, sedang secara mental sudah arif dan matang. Ditambah lagi saat itu beliau telah konsentrasi dalam kesibukan menjalankan tanggung jawab kepemimpinan, politik, perang, dan membangun daulah dan dakwah. Tugas ini jelas tidak member banyak waktu luang kepada beliau untuk santai dan istirahat, apalagi untuk bermain-main dan bersenang-senang.[26]
Sehingga tuduhan sekelompok orientalis dan orang-orang yang berpikiran sesat, mereka mencari-cari celah untuk menyerang dan mendiskreditkan nabi, dengan mengatakan bahwa nabi bersetubuh dengan istri-istrinya karena syahwat, terbantahkan dengan ini.
Perlu di catat juga bahwa ‘Āisyah r.a juga merupakan istri Rasulullah saw satu satunya yang dipersunting di waktu gadis dan muda. Keadaan ini sangat penting untuk menginformasikan kepadaUmmat tentang berbagai aspek kehidupan keluarga yang membutuhkan arahan hukum dan suri tauladan Rasulullah saw. Hal ini tidak mungkin bisa di informasikan kecuali melalui orang terdekat yang serumah dengan beliau dan memiliki cukup waktu dan tenaga untuk mencatat dan mendakwahkannya kembali kepada ummat.


Kesimpulan Kritik Matan
Dari aspek-aspek di atas maka dapat disimpulkan bahwa hadis mengenai usia pernikahan aisyah dari segi matan ternyata masih banyak mengandung kejanggalan. Kendatipun ada beberapa argument yang tidak mempersoalkan usia pernikahan aisyah pada usia 6 atau 7 tahun, Bagaimanapun, penjelasan seperti itu akan mudah menipu bagi orang-orang yang naif dalam mempercayainya, dan masih memerlukan pembuktian yang lebih jauh. Oleh karena itu, Berdasarkan kaidah kesahihan hadis, hadis ini belum bisa dijadikan hujjah untuk mengatakan bahwa aisyah menikah dengan nabi pada usia 6 atau 7 tahun.

*Dikutipkan dari Risalah yang saya susun pada Bab III Sub Bab 2


[1] Ibn Mandzur, Lisan al-‘Arab, Juz III. Hlm 434 - 435
[2] Muhammad Tahrir al-Jawabai, Juhud al-Muhaddisin fi Naqd Matn al-Hadist al-Nabawi al-Syarif ( Tunis : Muassat al-Karim ibn ‘Abdullāh [t.th]), hal 88 - 89
[3] Al-Baghdādī, Kitāb al-Kifāyah fī Ilmi al-Riwāyah, (Mesir, Matba’ah al-Sa’adah,1972), Hal. 206-207
[4] Ibn al-Jauzi, Kitāb al-Maudhū’āt, (Beirut : Dār al-fikr, 1403 H/1983 M), juz 1, hal. 106
[5] Al-Adabī, Manhaj Naqd al-Matn, (Beirut : Dār al-afaq al-jadīdah, 1403 H/1983 M), hal.237-238
[6] Ibid, hal. 238
[7] Al-‘Asqalānī, Tahdzib al-Tahdzib, Dār al-Kutub al-ilmiyah, Beirut, Lebanon
[8] Al-Dzahabi, Mizan al-I’tidal, (Beirut: Dār al-Ma’rifah li al-Thiba’ah wa al-Nasyr) jilid 4, hal. 301
[9] Al-Thabarī, Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk, Vol. 4 (Beirut: Dār al-fikr, 1979), hal. 922
[10] Ibn Hisyam, Sirah al-Nabawiyyah, jilid 1, hal. 166
[11] Sahih al-Bukhari, jilid 3, hal. 58
[12] Sahih Muslim, kitab: kitab al-jihad wa al-siyar, bab: karahiyat al-isti’anah fi al-ghazwi bikafir, no. 4472
[13] Sahih al-Bukhari, jilid 5, kitab al-Maghazi, bab Ghazwati al-Khandaq wa Hiya al-Ahzab, no. 423
[14] Sahih al-Bukhari, jilid 5, kitab al-jihad wa al-Siyar, bab Ghazwi al-Nisa’ wa Qitalihinna maa al-Rijal,  no. 393
[15] Age of Aishah, al-Rahman Publishing Trust (Regd), Karachi, 1997, hal. 61
[16] Jami’ Tirmidzi, jilid 2, hal. 246
[17] Al-Bidayah wa al-Nihayah, jilid 8, hal. 67
[18] Al-‘Asqalānī, Taqrib al-Tahdzib, Bab fi al-Nisa’, al-Harfu al-Alif, (t.t.p.: Dar Ihya al-Turats al-Islami, t.t.), hal. 654
[19] al-Dzahabī, Siyar al-A’lām al-Nubalā’, Vol 2 (Beirut: Muassisah al-Risālah, 1990), hal. 289
[20] Ibn Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Vol. 8 (Al-Jizah: Dar al-Fikr al-‘Arabi, 1933), hal. 372
[21] Ibid, 371.
[22] Al-‘Asqalānī, Al-Ishābah fi Tamyīzis Shahābah, Vol 4 (Beirut: Muassisah al-Risālah, 1972), hal. 377
[23] Lihat Kitab al-Tafsir, Bab Qaulihi Bal al-Saatu Maw`iduhum wa al-Saatu Adha’ wa Amarr, dalam Sahiri.
[24] Imam Ahmad, Musnad Ahmad, Dār al-Shadr, Beirut, jilid 6, hal. 210
[25] Sulaimān al-Nadawī, The Greatest Woman in Islam,  (Jakarta: Qisthi Press, 2007), hal. 11
[26] Dr. Nizar Abazah, Bilik-Bilik Cinta Muhammad, cet. 1 (Jakarta: Penerbit Zaman, 2009), hal. 183

0 komentar:

Poskan Komentar