Resensi Kitab Kaifa Nata’amal Ma’a Al-Sunnah Al-Nabawiyah’

Share on :
Dalam meresensi kitab berjudul ‘kaifa Nata’amal Ma’a Al-Sunnah Al-Nabawiyah’ ini penulis melihat melalui beberapa aspek berikiut :

Prinsip – prinsip dasar dalam berinteraksi dengan Al-sunnah Al-nabawiyah

Pertama, meneliti dengan seksama tentang ke-shahih-an hadits yang dimaksud sesuai dengan acuan ilmiah yang telah ditetapan oleh para pakar hadits yang dipercaya.
Kedua, dapat memahami dengan benar nash-nash yang berasal dari Nabi Saw sesuai dengan pengertian bahasa (Arab) dan dalam rangka konteks hadits tersebut serta sebab wurud (diucakannya) oleh beliau.
Ketiga, memastikan bahwa nash tersebut tidak bertentangan dengan nash lainnya yang lebih kuat kedudukannya, baik yang berasal dari Al quran, atau hadits-hadits lain yang lebih banyak jumlahnya, atau lebih shahih darinya, atau lebih sejalan dengan ushul

Hadits sahih yang ditolak karena susah dalam memahami nasnya

Mengenai penjelasan hadits sahih yang ditolak karena susah dalam memahami nasnya, yusuf qaradhawi berkata bahwa sebagian umat islam menolak hadis sahih karena mereka tidak bisa memahami makna sebagian kata dari suatu hadis. Misalnya ; hadis nabi yang berbunyi :
اللهم احيني مسكيناً, وأمتني مسكينا, واحشرني في زمرة  المساكين
Miskin di sini bukan berarti lemah atau rendah, karena akan bertentangan dengan hadis-hadis lain dimana nabi memohon perlindungan kepada allah dari fitnah akibat kemiskinan dan memohon agar diberi iffah (menjaga kehormatan) serta ghina (kecukupan).  akan tetapi miskin di sini maksudnya adalah sikap tawadhu serta rendah hati.
Contoh lain rasulullah saw bersabda :
ان الله يبعث لهذه الامة على رأس كل سنة من يجدد لها دينها
Tajdid di sini bukan berarti memperbaharui pokok-pokok ajaran agama dengan memodernkan dan mengubah agama agar bersesuaian dengan zaman, akan tetapi maksudnya adalah pembaharuan dalam hal memahami, meyakini, dan melaksanakan ajaran agama.
Demikian pula oleh yusuf qardhawi bahwa cepat-cepat menolak hadis sahih karena sulit dipahami adalah suatu tindakan yang ngawur. Misalnya seperti hadis tentang kucing, imam ahmad meriwayatkan dari alqamah ia berkata : kami pernah di rumah aisyah , ketika abu hurairah masuk. Lalu aisyah berkata kepadanya, ‘anda yang telah menyebut adanya hadis nabi tentang seorang perempuan yang mendapat azab allah disebabkan ia mengikat seekor kucing dan tak memberinya makan dan minum sehingga kucing itu mati?’ jawab abu hurairah, ‘saya mendengarnya dari rasulullah saw’ maka aisyah berkata, ‘adakah anda mengetahui siapa perempuan itu? Ia –disamping perbuatannya itu- adalah seorang kafir. Sedangkan seorang muslim adalah terlalu mulia di sisi allah untuk memperoleh siksaanNya, demi seekor kucing! Sebaiknya, bila anda hendak menyampaikan hadis dari nabi telitilah dahulu apa yang hendak anda ucapkan.’

Sunnah pada ruang lingkup fiqh dan tasyri’

Dalam menjelaskan sunah pada ruang lingkup fiqh dan penetapan hokum syariat, yusuf qaradhawi mengemukakan pendapat sebagian ulama, misal pendapatnya imam al-auza’I : ‘al-quran itu lebih membutuhkan sunah dibandingkan kebutuhan sunah kepada alquran’. Juga pendapatnya al-syaukani : ‘bahwa kehujjahan sunah serta wewenangnya dalam penetapan hukum, sudah merupakan suatu keharusan dalam agama. Tak seorang pun berbeda paham tentangnya, kecuali mereka yang tidak memiliki cukup ilmu dalam islam.’
Mengenai perlunya mempertautkan antara hadits dan fiqh, yusuf qaradhawi berkata : pada umumnya, orang-orang yang menyibukkan diri dalam fiqh, mereka tidak menguasai seluk beluk hadis dengan baik dan tidak mendalami ilmu-ilmunya, terutama ilmu jarh wa ta’dil.

Peran sunah dalam lingkup dakwah dan taujih

Mengenai peran sunah dalam lingkup dakwah dan taujih (penyuluhan keagamaan), yusuf qaradhawi berkata : pertama kali yang harus dijadikan pegangan oleh dai dalam sunah adalah menggali sumbernya dari kitab-kitab hadis, yaitu sahihain (bukhari-muslim) yang keduanya sudah diterima oleh umat.

Yang perlu diperhatikan seputar hadis daif

yusuf qaradhawi menetapkan beberapa fakta yang perlu diperhatikan seputar hadis daif, antara lain :
  • Sebagian ulama menolak hadis daif meskipun dalam urusan targhib dan tarhib, sehingga mereka hanya menerima hadis sahih dan hasan
  • Tidak ada standar tertentu  atau syarat-syarat terttentu yang ditetapkan oleh jumhur dalam meriwayatkan hadis daif
  • Dilarang meriwayatkan hadis daif dengan sighah jazm (nada pasti), yakni tidak boleh mengatakan “qala rasulullah” dalam meriwayatkan hadis daif.
  • Menghindari rusaknya perimbangan antar pelbagai amalan
  • periwayatan hadis daif tentang fadail amal itu bukan berarti memberinya wewenang bagi penetapan hukum. Dalam hal ini ibn taimiyah berkata : yang dilakukan ulama dalam mengamalkan hadis daif dalam fadail amal itu bukan berarti menetapkan di-sunnah-kannya sesuatu berdasarkan hadis yang seharusnya tidak boleh dijadikan hujjah, karena menetapkan di-sunnah-kannya sesuatu adalah termasuk suatu hokum syar’iy, dank arena itu, tidak berlaku kecuali dengan suatu dalil syar’iy pula.
Dua syarat lagi untuk membolehkan periwayatan hadis daif :
  • Tidak mengandung hal-hal yang amat dilebih-lebihkan, yang tidak diterima oleh akal, syariat, maupun secara bahasa. Misal ; ancaman yang sangat keras untuk masalah sepele
  • Tidak bertentangan dengan dalil syari lain yang lebih kuat dari hadis daif. Misal : hadis tentang Abdurrahman bin auf  yang masuk surge dengan merayap atau ngesot dikarenakan kekayaannya. Hadis ini bertentangan dengan hadis sahih yang menempatkan Abdurrahman termasuk 10 orang yang mendapat kabar gembira akan masuk surga.
Memahami sunah sesuai petunjuk alquran

Yusuf qaradhawi berkata : tidak mungkin ada sunah sahih yang kandungannya berlawanan/kontradiksi dengan ayat-ayat al-quran yang muhkamat. Dan kalaupun ada sebagian dari kita memperkirakan adanya pertentangan seperti itu, maka hal itu pasti disebabkan tidak sahihnya hadis yang bersangkutan, atau pemahaman kita yang tidak tepat, ataupun apa yang diperkirakan sebagai ‘pertentangan’ itu hanyalah bersifat semu, dan bukan pertentangan hakiki.

Oleh karena itu, maka hadits الغرانيق المزعوم harus ditolak tanpa ragu-ragu, karena hadis tersebut jelas bertentangan dengan firmannya allah ta’ala (فان ارادا فصالاً عن تراض منهما وتشاور فلا جناح عليهما). dan juga, ditolak pula hadis yang berbunyi (ليس في الخضروات صدقة) karena menafikan firman allah (كلوا من ثمره اذا اثمر وآتوا حقه يوم حصاده). dan ditolak juga hadis yang berbunyi (الوائدة والمؤودة في النار) karena menafikan firman allah (واذا المؤودة سئلت بأي ذنب قتلت), sedangkan hadis (ان ابي واباك في النار), Abdullah bin abdil muthalib tidak disiksa hingga ia masuk neraka, ia termasuk ahli fitrah. Dan yang benar adalah bahwa mereka orang-orang yang selamat. Allah swt berfirman (وما كنا معذبين حتى نبعث رسولاً).

Menghimpun hadis yang setema

Yusuf menfokuskan kepada perlunya menghimpun hadis-hadis yang setema, ia berkata : untuk berhasil memehami sunah secara benar, kita harus menghimpun semua hadis sahih yang berkaitan dengan suatu tema tertentu. Kemudian mengembalikan kandungannya yang mutasyabih kepada yang muhkam, mengaitkan yang muthlaq dengan yang muqayyad, dan menafsirkan yang ‘am dengan yang khash. Dengan cara itu, dapatlah dimengerti maksudnya dengan lebih jelas dan tidak bertentangan antara hadis yang satu dengan yang lainnya.
Misalnya; hadis tentang isbal, yang berbunyi :
ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة: المنان الذي لا يعطي شيئاً الا منة والمنفق (المروج) سلعته بالحلف الكاذب والمسبل ازاره
Hadis muslim pula berbunyi :
من جر ازاره لا يريد بذلك الا المخيلة، فان الله لا ينظر اليه يوم القيامة
Dalam riwayat ini disebutkan qaidnya, yaitu khuyala’ sebagai pembatas yang jelas, yaitu sikap sombong yang menjadi motivasi orang yang menjulurkan sarungnya. Itulah yang diancam dengan hukuman yang keras.

mendahulukan al-jamu (kompromi) daripada tarjih

termasuk menghimpun hadis dalam satu tema,Yusuf juga menempuh jalan mendahulukan al-jamu (kompromi) dari pada tarjih, misalnya: Hadis dari abu hurairah tentang dilaknatnya perempuan yang berziarah kubur, hadis ini dikuatkan juga oleh beberapa hadis yang mngandung larangan berziarah bagi perempuan, sehingga dapat disimpulkan pula larangan terhadap ziarah kubur bagi perempuan.
sedangkan dalam hadis yang lain menunjukkan bahwa perempuan juga diizinkan berziarah kubur, yaitu hadis yang berbunyi :



كنت نهيتكم عن زيارة القبور، فزوروها، زوروا القبور فانها تذكر بالموت
Keumuman izin dalam hadis tersebut tentunya mencakup wanita juga.
hadis-hadis yang mengizinkan lebih sahih dibandingkan dengan hadis-hadis yang melarang. Maka di antara kedua hadis tersebut dimungkinkan untuk dikompromikan bahwa kata ‘melaknat’ yang dimaksud dalam hadis tersebut –sebagaimana dikatakan oleh al-qurtubhi- adalah ditujukan kepada para wanita yang amat sering melakukan ziarah. Hal itu sesuai dengan bentuk kata ‘zawwarat’ yang berkonotasi mubalaghah, atau mungkin sebabnya ialah hal itu dapat mengakibatkan berkurangnya perhatian mereka kepada pemenuhan hak suami, disamping kemungkinan membawa mereka kepada tabarruj serta meratapi orang-orang yang mati dengan suara keras.
Demikian juga hadis-hadis tentang ‘azl :
 -عن جابر رضي الله عنه: كنا نعزل على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم والقرآن ينزل (متفق عليه)
 -اعزل عنها ان شئت، فانه سيأتيها ما قدر لها
Sedangkan dalam riwayat muslim dan ahmad dari nabi saw ketika mereka bertanya mengenai al-azlu nabi bersabda : ذلك الوأد الخفي وهي (اذا المؤودة سئلت)
Juga dari ibn abbas :
نهى عن العزل عن الحرة الا بإذنها
Kesimpulan dari keseluruhan hadis al-azlu ini adalah bahwa perbuatan ‘azl adalah dibolehkan. Demikianlah yang menjadi pendapat jumhur ulama. Hanya saja, seorang wanita merdeka (bukan budak) tidak boleh dilakukan ‘azl terhadapnya kecuali dengan izin dan kerelaannya. Sebab ia memiliki juga hak untuk memperoleh kepuasan.

Tentang nasakh hadis

Apabila dua hadis mengandung kemungkinan untuk diamalkan kedua-duanya, dan tidak boleh salah satu dari keduanya mencegah diamalkannya yang lain. Akan tetapi apabila tidak ada kemungkinan keduanya dapat dihindarkan dari pertentangan, maka dalam hal ini dapat ditempuh dua jalan :
1.    Jika diketahui salah satu dari keduanya adalah nasikh dan yang lainnya mansukh, maka yang nasikh diamalkan dan yang mansukh ditinggalkan
2.    Apabila keduanya saling bertentangan tetapi tidak ada petunjuk untuk mengetahui mana yang nasikh dan mana yang mansukh maka dalam hal ini kita tidak boleh berpegang pada salah satu dari keduanya, kecuali berdasarkan suatu alasan yang menunjukkan bahwa hadis yang kita jadikan pegangan adalah lebih kuat daripada yang kita tinggalkan. Misal: salah satunya lebih kuat sanadnya, lebih mirip dengan kandungan alquran atau sunah, lebih dekat dengan sesuatu yang telah benar-benar diketahui oleh para ahli ilmu, lebih sahih dalam qiyas, atau lebih menyerupai pendapat kebanyakan para sahabat.

memahami hadis dengan mempertimbangkan latar belakangnya, situasi dan kondisinya ketika diucapkan, serta tujuannya.

Yusuf qaradhawi mengatakan, ‘untuk dapat memahami hadis dengan pemahaman yang benar dan tepat, haruslah diketahui kondisi yang meliputinya serta dimana dan untuk tujuan apa ia diucapkan. Sehingga dengan demikian maksudnya benar-benar menjadi jelas dan terhindar dari berbagai perkiraan yang menyimpang dan terhindar dari diterapkan dalam pengertian yang jauh dari tujuan sebenarnya. Misal hadis yang berbunyi :
انتم اعلم بامور دنياكم
Hadis ini dijadikan dalih oleh sebagian orang untuk menghindar dari hokum-hukum syariat di berbagai bidang ekonomi, social, politik, dan sebagainya. Karena sebagaimana yang mereka dakwakan itu semua adalah urusan dunia. Padahal hadis tersebut dapat dipahami dengan melihat asbab al-wurudnya yaitu berkenaan dengan ‘penyerbukan pohon kurma’ ketika itu. Ketika itu rasulullah menyatakan pendapatnya yang berdasarkan perkiraan semata, karena nabi bukanlah ahli tanaman. Namun kaum anshar mengiranya pendapat nabi itu sebagai wahyu sehingga mereka meninggalkan kebiasaan penyerbukan tersebut. Hal itu akhirnya berpengaruh buruk pada buah kurma di musim itu, maka nabi kemudian menyampaikan hadis ini.


0 komentar:

Poskan Komentar